Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Rabu, 26 Januari 2022

Tanya Kiai: Hukum Menjamak Shalat Bagi Pengantin?

Pertanyaan (Hakim, bukan nama sebenarnya):

Saat melangsungkan resepsi pernikahan, mempelai wanita biasanya menggunakan pakaian dan riasan. Jika resepsi diadakan di siang hari, biasanya menghapus rias dan memakainya lagi setelah shalat cukup sulit dan menghabiskan banyak waktu. Apakah boleh jika pengantin menjamak shalat Zuhur dengan Ashar?

Jawaban (Kiai Muhammad Hamdi):

Ibadah shalat memiliki kedudukan yang paling utama dalam Islam karena ia adalah pondasi agama. Setiap muslim wajib mendirikan shalat di dalam waktunya. Allah berfirman:

اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (QS. An-Nisa [4]: 103).

Masing-masing shalat fardhu memiliki waktunya sendiri. Mayoritas ulama selain mazhab Hanafi membolehkan shalat jamak, yaitu melaksanakan dua shalat dalam satu waktu.

Ada dua pasangan shalat yang pelaksanaannya dapat dikumpulkan dalam satu waktu, yakni shalat Zuhur berpasangan dengan shalat Ashar, dan shalat Magrib berpasangan dengan shalat Isya.

Dalam hal ini, shalat Zuhur dan Magrib disebut waktu pertama, sedangkan shalat Ashar dan Isya disebut waktu kedua. Mengumpulkan dua shalat di dalam waktu pertama dinamakan “jamak taqdim”, sedangkan mengumpulkannya di dalam waktu kedua dinamakan “jamak ta’khir”.

Meskipun shalat boleh dijamak, tetapi lebih baik tidak menjamaknya sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, dalam rangka menghindari perbedaan pendapat mengenai kebolehannya (khuruj min al-khilaf) dan karena Rasulullah ﷺ tidak senantiasa melakukannya. 

Tidak boleh juga mengumpulkan dua shalat yang bukan menjadi pasangannya, misalnya shalat Ashar dengan Magrib, shalat Isya dengan shalat Subuh, atau shalat Subuh dengan shalat Zuhur.

Sementara itu, mazhab Hanafi berpendapat bahwa menjamak shalat hanya boleh dilakukan ketika wukuf di Arafah bagi orang yang haji dengan cara jamak taqdim antara Zuhur dan Ashar, dan pada malam ketika menginap di Muzdalifah dengan cara  jamak ta’khir antara Magrib dan Isya.

Siapa yang boleh menjamak shalat?

Di antara hadis yang menjadi dasar kebolehan menjamak shalat adalah:

جَمَعَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ، وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ، فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ. فِي حَدِيثِ وَكِيعٍ: قَالَ: قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ: لِمَ فَعَلَ ذَلِكَ؟ قَالَ: كَيْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ

Rasulullah mengumpulkan antara shalat Zuhur dan Ashar dan antara shalat Magrib dan Isya di Madinah tanpa (alasan) takut dan hujan. Dalam hadis riwayat Waki’, ia berkata: “Aku bertanya kepada Ibnu Abbas, mengapa beliau melakukan demikian?” Ibnu Abbas menjawab: “Agar beliau tidak memberatkan umatnya.” (HR. Muslim no. 705).

Ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan hadis di atas. Mayoritas ulama berpendapat tidak boleh menjamak shalat kecuali karena ada uzur (alasan syariat), yaitu bepergian, sakit, dan hujan.

Mazhab Hanbali menyatakan bahwa perempuan yang sedang menyusui atau istihadhah (darah yang keluar dari kemaluan di luar haid) boleh menjamak shalat, karena adanya kesulitan/kerepotan (masyaqqah) berupa harus menyucikan najis setiap shalat. 

Demikian pula orang yang berada dalam kesibukan penting yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi pencahariannya, seperti para buruh dan petani di ladang, boleh menjamak shalat.

Sementara itu, beberapa ulama berpendapat bahwa boleh menjamak shalat meskipun tidak dalam kondisi bepergian, selama hal tersebut tidak dijadikan sebagai tradisi atau kebiasaan.

Pendapat ini merupakan pendapat tabiin Imam Ibnu Sirin, ulama mazhab Maliki Imam Asyhab, serta Imam Ibnu Mundzir, Imam Abu Ishaq Al-Marwazi, dan Imam Al-Qaffal Al-Kabir dari mazhab Syafii

Ulama yang membolehkan menjamak shalat tanpa uzur ini berargumentasi dengan perkataan Sahabat Ibnu Abbas ra. dalam hadis riwayat Muslim di atas, di mana beliau ﷺ tidak menyebutkan alasannya, baik sakit maupun yang lain. Pelaksanaan jamak itu sendiri boleh berupa jamak taqdim atau jamak ta’khir.

Menjamak shalat bagi pengantin?

Tidak ada ulama terdahulu yang secara tegas menyatakan bolehnya menjamak shalat bagi mempelai ketika acara resepsi pernikahan. Namun, dari pendapat Imam Ibnu Sirin yang diikuti oleh beberapa ulama di atas, pengantin boleh menjamak shalatnya.

Alasannya adalah karena adanya masyaqqah (kesulitan/kerepotan) yang bermakna luas, termasuk kerepotan harus selalu melepaskan riasan dan busana setiap masuk waktu shalat. Namun, tentu saja tidak boleh menjamak shalat selain yang disebutkan dalam ketentuan shalat jamak.

Kesimpulan

Sahabat KESAN, pada kondisi normal, shalat harus dilaksanakan pada waktunya. Namun, dalam kondisi tertentu, mayoritas ulama selain mazhab Hanafi membolehkan untuk menjamak shalat dengan syarat yang ditentukan.

Beberapa uzur (alasan syariat) yang digunakan untuk menjamak shalat antara lain adalah bepergian, sakit, dan hujan. Yaitu yang menyebabkan kesulitan/kerepotan (masyaqqah) dalam mengerjakan shalat pada waktunya. 

Namun, sebagian ulama membolehkan untuk menjamak shalat di rumah karena ada keperluan tertentu, selama tidak menjadikannya kebiasaan. Ini merupakan pendapat Imam Ibnu Sirin, Imam Asyhab dari mazhab Maliki, dan Imam Al-Qaffal dari mazhab Syafii.

Maka dari itu, mengikuti pendapat tersebut, boleh bagi pengantin untuk menjamak shalatnya jika dirasa merepotkan untuk mengerjakannya di masing-masing waktu. 

Meskipun demikian, lebih baik menghindari jamak jika memungkinkan. Misalnya, dengan cara melaksanakan shalat Zhuhur di akhir waktunya, dan shalat Ashar di awal waktu. Hal ini sebagai sikap kehati-hatian karena ada ulama yang tidak membolehkannya, dan sejalan pula dengan kaidah fikih:

اَلْخُرُوجُ مِنَ الْخِلَافٍ مُسْتَحَبٌّ

Keluar dari perselisihan pendapat adalah disunnahkan.

Wallahu A’lam bi Ash-Shawabi.

Referensi: Wahbah Az-Zuhaili; Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu, An-Nawawi; Shahih Muslim Bi Syarh An-Nawawi, Taqiyuddin Al-Husaini; Kifayah Al-Akhyar, Zakaria Al-Anshari; Al-Ghurar Al-Bahiyyah.

###

*Kamu punya pertanyaan lain seputar agama Islam yang mau dibahas lengkap? Coba share di kolom komentar ya, atau hubungi kami di sini: salam@kesan.id.

**Kalau kamu suka artikel di aplikasi KESAN, jangan lupa share ya! Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS.

Bagikan artikel ini