Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Kamis, 10 Juni 2021

Tanya Kiai: Hukum Menutup Jalan untuk Nikahan?

Pertanyaan (Erik, bukan nama sebenarnya):

Di lingkungan saya ada yang melaksanakan acara nikahan dengan menutup jalan yang biasanya dilewati warga. Bagaimana hukum menutup jalan umum untuk kepentingan pribadi?

Jawaban (Kiai Muhammad Hamdi):

Ruas jalan yang biasa dilewati warga, bukan jalan buntu, dan bukan bagian tanah kepemilikan pribadi adalah fasilitas umum atau milik bersama. Seseorang tidak boleh mengklaim jalan itu untuk diri sendiri. Bahkan Islam mengajarkan untuk sama-sama menjaga jalan tersebut agar nyaman digunakan bersama.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ

Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih, yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan (HR. Muslim no. 35).

Yang dimaksud dengan gangguan adalah halangan-halangan yang merampas kenyamanan dan keamanan pengguna jalan, seperti paku dan pecahan kaca yang dapat melukai seseorang, atau penutupan jalan bukan karena proyek perbaikan, tetapi kepentingan pribadi atau kelompok.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan untuk tidak membangun atau mendirikan bangunan di jalan. Rasulullah ﷺ bersabda:

وَإِيَّاكُمْ وَالتَّعْرِيسَ عَلَى الطَّرِيقِ فَإِنَّهَا طُرُقُ الدَّوَابِّ وَمَأْوَى الْحَيَّاتِ

Jauhilah membangun kemah di jalan di malam hari, karena sesungguhnya itu adalah jalan bagi hewan melata dan ular (HR. Malik no. 1804).

Dalam hadis ini bahkan Rasulullah ﷺ menghitung hak bagi hewan untuk jalan yang mereka lewati. Adapun jalan umum menurut ulama fikih modern Syeikh Wahbah Az-Zuhaili termasuk dalam fasilitas umum dan diurus oleh pemerintah mengikuti aturan yang berlaku di setiap wilayah.

Ulama berbeda pendapat tentang pemanfaatan jalan umum untuk kepentingan pribadi, tergantung dari bagaimana sifat dan tujuannya.

Muamalah di jalan umum

Mazhab Hanafi dan Syafii membolehkan penggunaan jalan umum untuk kegiatan muamalah seperti jual beli, baik untuk waktu yang lama maupun sebentar. Keterangan ini terdapat pada Ensiklopedia Fikih Kuwait:

وَيَجُوزُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ الْجُلُوسُ فِي الطَّرِيقِ النَّافِذَةِ لِلْمُعَامَلَةِ كَالْبَيْعِ وَالصِّنَاعَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ، وَإِنْ طَال عَهْدُهُ وَلَمْ يَأْذَنِ الإِمَامُ، كَمَا لاَ يَحْتَاجُ فِي الإِحْيَاءِ إِلَى إِذْنِهِ، لاِتِّفَاقِ النَّاسِ عَلَيْهِ فِي جَمِيعِ الْأَعْصَارِ

Boleh menurut mazhab Hanafi dan Syafii duduk di jalan umum untuk muamalah, seperti jual beli, membuat sesuatu, dan semacamnya meskipun berlangsung lama dan tidak diizinkan oleh penguasa, sebagaimana dalam menghidupkan tanah mati yang tidak butuh izin penguasa, karena orang-orang menyepakatinya di seluruh masa.

Sedangkan mazhab Maliki dan Hanbali membolehkan kegiatan muamalah dengan syarat tidak dilakukan dalam waktu yang lama. Jika kegiatan berlangsung lama, maka harus dihentikan atau pindah ke tempat lain.

Mazhab Maliki menetapkan batas waktu muamalah di jalan umum selama satu hari. Jika melebihi itu, maka kegiatan harus dihentikan dan digusur. Tujuannya agar fasilitas umum tidak menjadi seperti milik pribadi.

Apabila seseorang menggunakan jalan umum untuk kegiatan selain melintas, muamalah, dan beristirahat, maka para ulama sepakat mengharamkannya jika merugikan pihak lain.

Dalam Ensiklopedia Fikih Kuwait disebutkan:

ذَهَبَ الْفُقَهَاءُ إِلَى حُرْمَةِ التَّصَرُّفِ فِي الطَّرِيقِ النَّافِذَةِ وَيُعَبَّرُ عَنْهُ بِالشَّارِعِ بِمَا يَضُرُّ الْمَارَّةَ فِي مُرُورِهِمْ، لِأَنَّ الْحَقَّ لِعَامَّةِ الْمُسْلِمِينَ، فَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يُضَارَّهُمْ فِي حَقِّهِمْ

Para ahli fikih berpendapat haram untuk berkegiatan di jalan terusan (yang disebut syari’ atau jalan raya) dengan kegiatan yang merugikan orang-orang yang melintas dalam perjalanan mereka, karena jalan itu hak umat Islam secara umum, maka seseorang tidak boleh mengambil hak mereka.

Sementara itu, Grand Mufti Mesir Dr. Syauqi Ibrahim ‘Allam menetapkan bahwa tidak boleh menggunakan jalanan atau ruang publik lainnya untuk kegiatan apapun, karena mengganggu hak pejalan dan mempersempit ruang publik. 

Kecuali kegiatan yang diselenggarakan atas kebijakan otoritas yang berwenang, seperti pasar yang diadakan di sejumlah tempat pada waktu-waktu tertentu, atau menutup sebagian badan jalan untuk pelaksanaan shalat Jumat. Kegiatan-kegiatan tersebut boleh dilakukan dengan syarat menyisakan cukup ruang agar pengguna jalan tetap bisa melintasinya. 

Beristirahat dan mengobrol di jalan umum

Ulama berbeda pendapat jika jalan umum digunakan untuk beristirahat dan mengobrol. Mazhab Maliki melarangnya, sementara mazhab Syafii membolehkan dengan syarat tidak mempersempit pengguna jalan.

Rasulullah ﷺ pernah melarang para sahabat untuk duduk di jalanan. Mendengar larangan tersebut, para sahabat menjawab, "Itu kebiasaan yang sudah kami lakukan sejak lama, karena itu menjadi majelis tempat kami mengobrol.”

"Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis itu, maka tunaikanlah hak pengguna jalan tersebut," jawab Rasulullah ﷺ.

Para sahabat bertanya, "Apa hak pengguna jalan itu ya Rasulullah?"

Beliau ﷺ bersabda:

غَضُّ البَصَرِ وَكَفُّ الأَذَى وَرَدُّ السَّلاَمِ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيٌ عَنِ المُنْكَرِ

"Menundukkan pandangan, menyingkirkan penghalang, menjawab salam, memerintahkan pada kebajikan dan mencegah kemungkaran (HR. Bukhari no. 2465 dan Muslim no. 2121).

Berdasarkan hadis di atas, ulama mazhab Syafii Imam Nawawi melarang duduk-duduk di jalan. Beliau menjelaskan bahwa makna “menyingkirkan halangan” termasuk meninggalkan pergunjingan, prasangka buruk, menghina orang yang melintas, dan mempersempit ruang jalanan.

Contohnya preman yang mangkal di jalan untuk memalak dan membuat takut pengguna jalan. Perbuatan ini termasuk pelanggaran terhadap hak pengguna jalan.

Sementara itu,  Imam Al-Qurthubi, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan Imam Asy-Syaukani mengatakan bahwa larangan dalam hadis di atas tidak menunjukkan keharaman, melainkan bimbingan agar mereka yang duduk-duduk di jalan tetap melaksanakan kewajiban dan memperhatikan hak-hak pengguna jalan.

Membangun atap yang melebar ke jalan umum

Ulama berbeda pendapat tentang pembangunan atap atau kanopi yang melebar hingga ke jalan. Mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafii membolehkan hal ini jika tiang atau penyangganya berada di tanah milik pribadi, dan tidak membahayakan orang yang lewat. 

Mereka berpandangan bahwa memasang atap yang melebar ke jalan raya termasuk memanfaatkan sesuatu yang tidak berkepemilikan, yaitu udara.

Mazhab Hanbali membolehkan pemasangan atap dan sejenisnya yang melebar ke jalan jika pemerintah memberi izin. Namun, ulama mazhab Hanbali Imam Ibnu Qudamah melarang pemasangan atap yang melebar ke jalan, baik membahayakan orang yang lewat maupun tidak.

Kesimpulan

Sahabat KESAN yang budiman, acara seperti pernikahan memang membutuhkan tempat yang agak luas untuk menyambut tamu undangan. Bagi sebagian orang, menyewa tempat adalah hal yang terlalu mewah, sehingga beberapa orang mengandalkan halaman yang seadanya dan jalan umum.

Ketika menggunakan jalan umum untuk pesta pernikahan atau agenda pribadi lainnya, Sahabat KESAN harus memperhatikan dua hal berikut:

Pertama, tidak menutup akses orang lain untuk menggunakan jalan tersebut.

Kedua, mendapatkan izin dari warga sekitar dan otoritas berwenang.

Apabila kedua syarat di atas terpenuhi, maka Sahabat dapat menggunakan fasilitas umum tersebut. Namun, alangkah lebih baik jika agenda pribadi dilakukan di tempat yang privat, untuk menghindari berbuat zalim kepada pengguna fasilitas yang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Tidak (boleh) ada membahayakan diri sendiri dan tidak (boleh) ada membahayakan orang lain (HR. Ibnu Majah no. 2341. Hadis hasan menurut Imam Nawawi).

Referensi: Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, An-Nawawi; Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi, Asy-Syaukani; Nail Al-Authar, Al-Khathib Asy-Syirbini; Mughni Al-Muhtaj, Zainuddin Al-Malibari; Fath Al-Mu’in.

###

*Jika artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua.Aamiin. Download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan.

**Punya pertanyaan terkait Islam? Silakan kirim pertanyaanmu ke salam@kesan.id

***Bantu kami lebih Ber-KESAN dengan mengisi survei di link ini. Ada hadiah menarik bagi Sahabat KESAN yang mengisi survei dengan lengkap dan kritik serta saran terbaik. Kami tunggu masukannya ya Sahabat.

Bagikan artikel ini

Berita terkait