Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Kamis, 29 Oktober 2020

Tanya Kiai: Maulidan?

Pertanyaan (Rico, bukan nama sebenarnya):

Bagaimana hukumnya maulidan, dan kenapa umat Islam merayakannya?

Jawaban (Kiai Muhammad Hamdi):

As-Sayyid Muhammad bin ‘Alawy Al-Maliki (w. 2004 M) mengatakan bahwa perayaan Maulid Nabi Muhammad ﷺ adalah bentuk dari kesenangan dan kegembiraan akan datangnya Rasulullah ﷺ sebagai salah satu ekspresi dari cinta kepada Rasulullah ﷺ. 

Perayaan Maulid Nabi Muhammad ﷺ merupakan kegiatan berkumpul untuk mendengarkan sirah Rasulullah ﷺ, pujian-pujian terhadap beliau ﷺ, memberikan makanan, memuliakan orang-orang miskin dan kurang mampu, serta memberikan kegembiraan di hati para pencinta Rasulullah ﷺ.

Perkumpulan ini adalah salah satu media dakwah yang membuka kesempatan bagi para ulama dan da’i untuk mengingatkan umat Islam tentang akhlak, perilaku, sejarah, ibadah, dan aktivitas sosial Rasulullah ﷺ. Tentu, membicarakan tentang Rasulullah ﷺ akan semakin khidmat ketika  dilakukan di hari istimewa beliau ﷺ.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا كَانَ تِرَةً عَلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Tidaklah suatu kaum duduk bermajelis lalu mereka tidak berzikir kepada Allah dan bershalawat atas Nabi ﷺ di dalamnya, kecuali hal itu akan menjadi kerugian bagi mereka pada hari kiamat (HR. Ahmad no. 9854 & 9466, Tirmidzi no. 3380; hasan sahih menurut Imam Tirmidzi). 

Dari hadis di atas, jelaslah anjuran untuk berkumpul dalam suatu majelis untuk mengingat Allah dan bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Dan justru perkumpulan yang tidak terkandung shalawat, apalagi pelajaran mulia dari kehidupan beliau  ﷺ, dicap sebagai perkumpulan yang akan menjadi sumber penyesalan. 

Hadis di atas juga tidak membatasi kapan diperbolehkannya majelis zikir dan shalawat tersebut. Mau setiap hari boleh, mau setiap minggu boleh, mau setiap bulan boleh, mau setiap tahun bersamaan dengan hari lahir Nabi Muhammad ﷺ juga tidak ada larangan secara khusus. 

Embrio Maulid 

Usia perayaan maulid Nabi Muhammad ﷺ pada dasarnya sama dengan usia Islam itu sendiri. Bahkan embrionya telah ditanam oleh Nabi ﷺ. Dalam sebuah hadis disebutkan: 

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الاِثْنَيْنِ قَالَ:‏ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ

Nabi ﷺ ditanya soal puasa pada hari Senin, beliau ﷺ menjawab, “Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku” (HR. Muslim no. 1162).

Hadis di atas menjadi dasar bahwa puasa adalah cara Rasulullah ﷺ merayakan hari kelahirannya (maulid). Bahkan, berdasarkan hadis di atas, Nabi ﷺ merayakannya setiap pekan dengan berpuasa Senin.

Selanjutnya, di dalam Al-Qur’an disebutkan, apabila rahmat datang di tengah-tengah kita, hendaklah kita bergembira karenanya. 

Allah berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ 

Katakanlah (Muhammad), dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira (QS. Yunus [10]: 58).

Ayat ini dengan jelas memerintahkan kita untuk bergembira tatkala datang karunia dan rahmat Allah. Dan bukankah Nabi Muhammad ﷺ adalah karunia dan rahmat bagi alam semesta? 

Allah jelas sekali menyampaikan hal ini dalam Al-Qur’an:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ - ١٠٧

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam (QS. Al-Anbiya’ [21]: 107).

Dua ayat Al-Qur’an di atas menjelaskan bahwa pertama, apabila rahmat Allah itu datang, maka kita diharuskan bersyukur. Kedua, Nabi Muhammad ﷺ adalah rahmat dari Allah bagi semesta alam. Oleh karenanya, kita pun seyogianya bersyukur atas lahirnya dan diutusnya beliau ﷺ kepada kita semua. 

Sebab dengan diutusnya Nabi ﷺ, umat manusia mendapatkan pembimbingnya yang mengeluarkan mereka dari jalan kesesatan menuju jalan kebenaran. Bukankah dengan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, lebih dari 1.8 miliar manusia saat ini (jumlah umat Islam) dapat mengenal Tuhan-Nya? 

Dalam tafsirnya, Imam Baqi' Bin Makhlad, ulama besar Al-Andalusia yang pernah berguru kepada Imam Ahmad, mengatakan bahwa kelahiran Nabi Muhammad ﷺ adalah salah satu sumber kesedihan Iblis yang selalu berupaya menyesatkan manusia. 

Seperti dikutip oleh ulama tafsir Imam Ibnu katsir dalam Al-Bidayah Wa An-Nihayah, Imam Baqi’ menulis: 

أن إبليس رن أربع رنات; حين لعن ، وحين أهبط ، وحين ولد رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وحين أنزلت الفاتحة 

Iblis pernah menangis histeris empat kali: ketika dikutuk oleh Allah, ketika diusir (dari surga), ketika Nabi Muhammad ﷺ lahir, dan ketika surat Al-Fatihah diturunkan. 

Secara implisit Imam Baqi’ ingin mengingatkan kita bahwa sudah seyogianya kita sebagai umat Nabi Muhammad ﷺ berbahagia dengan kelahirannya ﷺ.

Pendapat Ulama 

Kalau kemudian ada pertanyaan mengapa Rasulullah ﷺ tidak mengadakan peringatan maulid pada bulan Rabiul Awal

Ulama fikih Imam Abu Abdillah bin Al-Hajj Al-‘Abdari (w. 737 H) menjawab bahwa sebagaimana diketahui dari kebiasaan Rasulullah ﷺ adalah tidak mau membebankan umatnya, terlebih sesuatu yang berkaitan dengan pribadi beliau ﷺ.

Ulama hadis Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (w. 852 H) mengatakan bahwa peringatan maulid bersumber dari dalil yang kuat dalam Sahih Bukhari dan Muslim:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا، يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَصُومُونَهُ؟" فَقَالُوا: هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ، أَنْجَى اللهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ، وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ، فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا، فَنَحْنُ نَصُومُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Dari Ibn Abbas r.a, bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ datang ke Madinah lalu menemukan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Lalu Rasulullah ﷺ bertanya kepada mereka, “Hari apa yang kalian puasai ini?” Mereka menjawab, ini adalah hari besar, Allah menyelamatkan di dalamnya Nabi Musa dan kaumnya, menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya, lalu Nabi Musa berpuasa hari itu karena bersyukur, maka kami pun berpuasa. Lalu Rasulullah ﷺ besabda, “Kami lebih berhak dan lebih utama terhadap Nabi Musa daripada kalian”. Maka Rasulullah ﷺ berpuasa Asyura dan memerintahkannya (HR. Bukhari no. 2004 dan 4737, Muslim no. 1130, Ahmad no. 2644 dan 2831).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani juga mengatakan, "Maulid mengandung banyak kebaikan dan juga sebaliknya. Barang siapa mencari kebaikan maulid dan menjauhi keburukannya, maka maulid adalah bid'ah hasanah. Namun ketika sebaliknya (lebih mencari kejelekan dan menjauhi kebaikan maulid) maka termasuk bid'ah madzmumah (tercela)."  

Ketika ditanya tentang hukum maulid, ulama besar bermazhab Syafii Imam As-Suyuthi (w. 911H) berkata, “Hukum pelaksanaan maulid Nabi ﷺ, yang mana pada hari itu masyarakat berkumpul, membaca Al-Qur’an, dan membaca kisah Nabi ﷺ pada  permulaan perintah Nabi ﷺ serta peristiwa yang terjadi pada saat beliau dilahirkan, kemudian mereka menikmati hidangan yang disajikan dan kembali pulang ke rumah masing-masing tanpa ada tambahan lainnya, adalah bid’ah hasanah. Diberi pahala orang yang memperingatinya karena bertujuan untuk mengangungkan Nabi ﷺ serta menunjukkan kebahagiaan atas kelahiran beliau ﷺ.”

Dalam sebuah riwayat disebutkan, begitu bahagianya Abu Lahab atas kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, ia pun membebaskan dan memerdekakan salah seorang budak perempuan yang dimilikinya. Hal itulah yang membuatnya terlepas dari siksa api neraka di setiap malam Senin. Dalam sebuah hadis sahih disebutkan:

وَثُوَيْبَةُ مَوْلاَةٌ لأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ‏

Dan Tsuwaibah adalah hamba sahaya milik Abu Lahab yang dia merdekakan kemudian menyusui Nabi Muhammad ﷺ. Tatkala Abu Lahab telah meninggal sebagian keluarganya melihat dalam mimpi tentang buruknya keadaan dia. Lalu dia berkata, Apa yang terjadi? Abu Lahab berkata, Aku tidak mendapatkan apa pun sepeninggal kalian kecuali aku diberi minum karena memerdekakan Tsuwaibah (HR. Bukhari no. 5101).

Ulama mazhab Maliki Imam Al-Zarqani, dalam kitabnya Al-Mawahib Al-Laduniyah bi Al-Manhi Al-Muhammadiyah, menyebut bahwa Abu Lahab diperlihatkan di dalam mimpi setelah ia mati, ditanyakan kepadanya, “Bagaimana keadaanmu?” Ia menjawab, “Di dalam neraka, hanya saja azabku diringankan setiap malam Senin. Aku menghisap air di antara jari jemariku sekadar ini (ia menunjuk ujung ibu jarinya). Itu aku dapatkan karena aku memerdekakan Tsuwaibah ketika ia memberikan kabar gembira kepadaku tentang kelahiran Muhammad ﷺ dan ia menyusukan Muhammad ﷺ.”

Ulama tafsir Nusantara Prof. Dr. M. Quraish Shihab menyebut bahwa hadis dari Sahih Bukhari di atas merupakan argumentasi yang sangat kuat—di samping argumentasi yang lain—yang memberikan dukungan untuk menyambut dan merayakan maulid Nabi Muhammad ﷺ. Bahkan Imam Ibnu Katsir, ulama tafsir dan hadis Imam Baghawi, dan ulama fikih Imam Baihaqi tidak ragu untuk menggunakan hadis di atas. 

Jika Abu Lahab, di mana salah satu surat Al-Qur’an turun untuk mencelanya, saja diberi balasan yang baik sebab kegembiraannya atas kelahiran Rasulullah ﷺ. Lalu bagaimana dengan seorang muslim ahli tauhid yang turut bergembira dengan kelahiran beliau ﷺ dan memberikan apa yang mampu ia berikan karena cinta kepada Rasulullah ﷺ?

Ragam ekspresi rasa syukur

Di Indonesia, perayaan atas kelahiran Nabi Muhammad ﷺ disebut maulidan dan diselenggarakan dalam berbagai bentuk ekspresi kebudayaan. Misalnya, membuat male (hiasan telur) untuk dibawa ke masjid dan dibagikan ke yang datang, membuat makanan dan minuman untuk dimakan bersama di masjid atau mushalla setelah pengajian selesai dilakukan, membaca puji-pujian, majelis taklim, pembacaan sirah Nabi ﷺ, dsb.

Ulama Nusantara KH. Hasyim Asy’ari misalnya, menyarankan merayakan maulid Nabi ﷺ dengan:

1. Berkumpul, memulai acara.

2. Membaca ayat atau surat Al-Qur'an yang dirasa gampang.

3. Membaca hadis atau sirah Nabi Muhammad ﷺ tentang masa kandungannya, lahirnya, masa kecilnya, dan pertumbuhannya.

4. Menyajikan makanan untuk dinikmati bersama.

5. Mengakhiri acara dan kembali ke tempat masing masing.

Catatan Akhir 

Memang ada perbedaan pendapat antara ulama tentang kebolehan merayakan maulid. Para ulama besar yang membolehkan maulid di antaranya, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Imam As-Suyuti, Imam Ibnul Jauzi Al-Hanbali, Imam As-Sakhawi, Al-Hafidz Al-Iraqi, Imam Abu Syamah (guru Imam Nawawi), Syeikh Wahbah Az-Zuhaili, dsb. Lembaga fatwa berbagai negara Islam, dari mulai Maroko, Mauritania, Al-Jazair, Mesir, Tunis, Palestina, Emirat, Kuwait, Jordan, Malaysia, hingga Indonesia (MUI) membolehkan maulid. 

Adapun para ulama besar yang tidak membolehkan maulid di antaranya, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Asy-Syatibi, Imam Al-Fakihani, dsb. Lembaga fatwa negara Saudi Arabia tidak membolehkan maulid. 

Oleh karena itu, untuk menjaga ukhuwah Islamiyyah, bagi yang percaya dengan kebolehan maulid, hendaknya merayakan maulid tanpa merasa paling mencintai Rasulullah ﷺ. Sedangkan yang tidak setuju dengan perayaan maulid, hendaknya tidak merasa paling suci dan syar’i. Kita semua adalah umat Nabi Muhammad ﷺ. Janganlah kita coreng hari kelahiran beliau ﷺ dengan saling merasa paling benar dan berdebat tak karuan. 

Wallahu a’lam bi ash-shawabi

Referensi: Haul al-Ihtifal Bidzikra al-Maulid An-Nabawi Asy-Syarif; As-Sayyid Muhammad bin ‘Alawy Al-Maliki, Al-I’lam Bifatawa A’immah al-Islam Haul Maulidih; As-Sayyid Muhammad bin ‘Alawy Al-Maliki, Husn al-Maqshid fi ‘Amal al-Maulid; Jalaluddin As-Suyuthi, An-Ni’mat al-Kubra ‘ala al-‘Alam fi Maulid Sayyid Walad Adam; Ibn Hajar Al-Haitami, Iqtidha’ ash-Shirat al-Mustaqim; Ibn Taimiyah.

###

*Bagi Sahabat KESAN yang ingin membantu pesantren terbebas dari virus Covid-19, Sahabat bisa ikut berinfak melalui KESAN dengan klik link ini. Infak yang terkumpul akan digunakan untuk membeli alat rapid test dan disalurkan kepada pesantren-pesantren yang membutuhkan. Tidak ada infak yang terlalu kecil, berapa pun insyaAllah bermanfaat. 

**Jika artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan. 

**Punya pertanyaan terkait Islam? Silakan kirim pertanyaanmu ke salam@kesan.id

Bagikan artikel ini

Berita terkait