Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Jumat, 23 Oktober 2020

Tanya Kiai: Membawa Hewan Ternak Ketika Shalat Istisqa’?

Pertanyaan (Hunai, bukan nama sebenarnya):

Dalam kitab fathul qarib dijelaskan bahwa ketika berangkat mengerjakan shalat Istisqa' (shalat sunnah meminta diturunkan hujan) dianjurkan untuk membawa anak kecil, lansia, dan hewan ternak.

Apakah ada hikmah tersendiri, ketika berangkat shalat Istisqa' membawa hewan ternak?

Jawaban (Kiai Muhammad Hamdi):

Istisqa’ secara bahasa artinya meminta hujan. Ada tiga tingkatan dalam istisqa’. Pertama, berdoa meminta hujan tanpa disertai shalat Istisqa’ dan tidak pula dilakukan setelah shalat fardu atau shalat sunnah. Kedua, berdoa setelah shalat fardu atau sunnah atau di dalam khutbah Jumat. Ketiga, dengan melaksanakan shalat yang disebut dengan shalat Istisqa’.

Hukum shalat Istisqa’ adalah sunnah mu’akkadah (sunnah yang dianjurkan). Sebelum mengadakan shalat Isitisqa’, penguasa suatu wilayah (biasanya) terlebih dahulu memerintahkan warganya untuk berpuasa selama tiga hari berturut-turut. Lalu di hari keempat, ia bersama para warga keluar dengan tenang dan rendah hati menuju ke tanah lapang yang menjadi tempat pelaksanaan shalat Istisqa’ dalam keadaan berpuasa. Shalat Istisqa’ dilaksanakan dua rakaat lalu diikuti dengan dua kali khutbah sebagaimana shalat Id.

Dalam sebuah riwayat disebutkan: 

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مُتَبَذِّلاً مُتَوَاضِعًا مُتَضَرِّعًا حَتَّى أَتَى الْمُصَلَّى - زَادَ عُثْمَانُ فَرَقِيَ عَلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ اتَّفَقَا - وَلَمْ يَخْطُبْ خُطَبَكُمْ هَذِهِ وَلَكِنْ لَمْ يَزَلْ فِي الدُّعَاءِ وَالتَّضَرُّعِ وَالتَّكْبِيرِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَمَا يُصَلِّي فِي الْعِيدِ

Rasulullah ﷺ keluar untuk melaksanakan shalat istisqa’ dengan pakaiaan yang sederhana, tawadhu' dan khusyuk hingga beliau sampai di tempat shalat-Utsman menambahkan-kemudian beliau naik mimbar-dan keduanya sepakat bahwa-beliau ﷺtidak khutbah seperti biasanya, akan tetapi beliau berdoa dan betul-betul khusyuk dalam berdoa dan beliau bertakbir kemudian beliau shalat dua rakaat sebagaimana shalat Id (HR. Abu Dawud no. 984).

Tidak hanya warga dari kalangan pemuda yang pergi menuju tempat pelaksanaan shalat, tetapi anak-anak kecil, bahkan hewan ternak pun turut diikutsertakan. Ulama fikih Muhammad bin Qasim Al-Ghazzi mengatakan:

وَيُخْرِجُونَ مَعَهُمْ الصِّبْيَانَ وَالشُّيُوخَ وَالْعَجَائِزَ وَالْبَهَائِمَ

Mereka (kaum) membawa keluar anak-anak kecil, orang-orang lanjut usia laki-laki dan perempuan, dan hewan-hewan ternak bersama mereka.

Menurut pendapat yang paling kuat, hukum membawa serta hewan menuju ke tempat shalat adalah sunnah. Imam An-Nawawi berkata:

وَيُسْتَحَبُّ إِخْرَاجُ الْبَهَائِمِ عَلَى الْأَصَحِّ. وَعَلَى الثَّانِي لَا يُسْتَحَبُّ، فَلَوْ أُخْرِجَتْ فَلَا بَأْسَ

Disunnahkan membawa keluar hewan-hewan ternak menurut pendapat yang paling sahih. Menurut pendapat kedua, tidak disunnahkan, tapi jika hewan ternak dibawa keluar, maka tidak apa-apa.

Ulama mazhab Syafii Syeikh Abu Ishaq Al-Marwazi (w. 951 H) mengatakan bahwa hewan ternak turut dibawa ke lokasi shalat karena (dengan itu) barangkali Allah merahmatinya

Rasulullah ﷺ bersabda: 

خَرَجَ نَبِيٌّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ يَسْتَسْقِي، فَإِذَا هُوَ بِنَمْلَةٍ رَافِعَةٍ بَعْضَ قَوَائِمِهَا إِلَى السَّمَاءِ، فَقَالَ: ارْجِعُوا فَقَدِ اسْتُجِيبَ لَكُمْ مِنْ أَجْلِ شَأْنِ النَّمْلَةِ

Seorang nabi dari para nabi keluar karena akan meminta hujan. Tiba-tiba ia bertemu dengan seekor semut yang mengangkat sebagian kakinya ke langit. Lalu ia (nabi tersebut) berkata (kepada kaumnya), “Pulanglah! kalian telah dikabulkan karena sikap (doa) semut ini” (HR. Hakim no. 1233; sahih menurut Al-Hakim dan ulama yang lain).

Dikatakan bahwa nabi tersebut adalah Nabi Sulaiman as. Dari kisah semut ini, ulama fikih Syeikh Asy-Syarwani dan Asy-Syibramallisi mengungkapkan bahwa hewan ternak kadang-kadang memohon sesuatu dan dikabulkan. 

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا

Tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan diberi hujan (HR. Ibnu Majah no. 4009).

Sementara itu, ulama fikih Syeikh Ibn Hajar Al-Haitami dan Al-Khathib Asy-Syarbini berkata:

وَيُسَنُّ إِخْرَاجُ الْبَهَائِمِ لِأَنَّ الجَدَبَ قّدْ أَصَابَهَا أَيْضًا

Disunnahkan membawa keluar hewan-hewan ternak, karena paceklik/kegersangan juga menimpa mereka.

Sedangkan ulama fikih kontemporer Syeikh Wahbah Az-Zuhaili menyatakan bahwa rezeki berupa air hujan dibutuhkan oleh semua, termasuk hewan. Selain itu, dengan membawa hewan ternak (diharapkan) akan menghasilkan banyak suara rintihan dan teriakan karena butuh atau kehausan, sehingga menambah kekuatan dikabulkannya doa.

Sahabat KESAN yang budiman, dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hikmah membawa hewan ternak ke tempat shalat Istisqa’ adalah:

1. Mengharapkan turunnya rahmat Allah kepada hewan, di mana rahmat tersebut diharapkan turut menyebar dan bermanfaat bagi manusia.

2. Hewan juga (mampu) berdoa pada Allah dan bisa saja doanya dikabulkan. Terkait hal ini Al-Qur’an menjelaskan:

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يَسْجُدُ لَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُوْمُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَاۤبُّ وَكَثِيْرٌ مِّنَ النَّاسِۗ 

Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia? (QS. Al-Hajj [22]:18) 

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا - ٤٤

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya (manusia, jin, hewan, tumbuhan) bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun (QS. Al-Isra’ [17]:44). 

Rasulullah ﷺ bersabda: 

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ سَمَاوَاتِهِ وَأَرَضِيهِ وَالنُّونَ فِي الْبَحْرِ يُصَلُّونَ عَلَى الَّذِينَ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ الْخَيْرَ

Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi, serta ikan di lautan (selalu) bershalawat (mendoakan) orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (HR. Darimi no. 291)

3. Bencana kekeringan tidak hanya berdampak terhadap kelangsungan hidup manusia, tapi juga kepada hewan.

4. Semakin banyak yang berdoa, harapannya mampu menambah kekuatan doa.

Wallahu a’lam bi ash-shawabi

Referensi: Raudhah Ath-Thalibin dan Al-Majmu’; An-Nawawi, Hasyiyah Asy-Syarwani ‘ala Tuhfah Al-Muhtaj; Asy-Syarwani, Nihayah Al-Muhtaj; Ar-Ramli, dan Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh; Wahbah Az-Zuhaili.

###

*Bagi Sahabat KESAN yang ingin membantu pesantren terbebas dari virus Covid-19, Sahabat bisa ikut berinfak melalui KESAN dengan klik link ini. Infak yang terkumpul akan digunakan untuk membeli alat rapid test dan disalurkan kepada pesantren-pesantren yang membutuhkan. Tidak ada infak yang terlalu kecil, berapa pun insyaAllah bermanfaat. 

**Jika artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan. 

**Punya pertanyaan terkait Islam? Silakan kirim pertanyaanmu ke salam@kesan.id 

Bagikan artikel ini

Berita terkait