Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Senin, 26 Oktober 2020

Tanya Kiai: Menyakiti Hewan demi Kesenangan?

Pertanyaan (Fahrul, bukan nama sebenarnya)

Kemarin saya pergi ke suatu tempat, ada binatang seperti sapi, kerbau, dan kuda sedang dilombakan sebagai pacuan, saya lihat mereka dipecut menggunakan kayu yang ditancapi paku sampai berdarah supaya larinya kencang dengan harapan menang lomba. Bagaimana Islam memandang hal tersebut?

Jawaban (Ustadz Abdul Walid dan Redaksi KESAN)

Sejatinya Islam tidak melarang umatnya untuk melaksanakan perlombaan. Bahkan Rasulullah pernah mengadakan lomba pacuan kuda. 

Dalam satu riwayat disebutkan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَابَقَ بَيْنَ الْخَيْلِ الَّتِي أُضْمِرَتْ مِنْ الْحَفْيَاءِ وَأَمَدُهَا ثَنِيَّةُ الْوَدَاعِ

Rasulullah pernah mempertandingkan antara kuda yang dipersiapkan untuk pacuan yang jaraknya dimulai dari Al-Hafya' sampai Tsaniyatul Wada' (HR. Bukhari no. 420).

Hanya saja, dalam kegiatan apa pun, baik lomba pacuan binatang sekali pun, yang bahkan dicontohkan oleh Rasulullah sendiri, beliau tetap dengan tegas mencegah adanya tindak penyiksaan binatang. 

Sahabat Hisyam bin Zaid bin Anas bin Malik r.a, pernah melihat sekumpulan orang yang sedang memanah, lalu mereka mengikat seekor ayam yang dijadikan sebagai sasaran panahan mereka. 

 دَخَلْتُ مَعَ أَنَسٍ عَلَى الْحَكَمِ بْنِ أَيُّوبَ، فَرَأَى غِلْمَانًا ـ أَوْ فِتْيَانًا ـ نَصَبُوا دَجَاجَةً يَرْمُونَهَا‏.‏ فَقَالَ أَنَسٌ نَهَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ تُصْبَرَ الْبَهَائِمُ

Aku dan kakekku Anas bin Malik masuk ke kampung Al-Hakam bin Ayyub, ternyata di sana ada orang yang mengikat seekor ayam, lalu dijadikan sasaran anak panah. Lalu Anas berkata, “Rasulullah telah melarang mengikat hewan lalu dipanah hingga mati” (HR. Bukhari no. 5513).

Memang, Rasulullah melakukan pacuan kuda. Namun, tujuan pacuan kuda itu tidak untuk kesenangan semata, akan tetapi tujuan dari pacuan kuda itu adalah untuk melatih keterampilan dan ketangkasan umat Islam dalam menunggang kuda. Hal ini terkait dengan budaya masyarakat Arab di awal-awal Islam, di mana mereka suka berperang.  

Dengan demikian, keterampilan berkuda menjadi penting untuk dikuasai oleh umat Islam saat itu untuk melindungi agama Allah dan menjaga kehormatan mereka. 

Lalu bagaimana hukumnya jika perlombaan tersebut mengandung unsur penyiksaan terhadap hewan dan untuk kesenangan semata?

Ulama mazhab Syafii berpendapat bahwa perlombaan disunnahkan bagi kaum laki-laki. Perlombaan pacuan binatang ini masih tetap diperbolehkan, meskipun tidak mengandung unsur apa-apa. Misalnya, pacuan kuda dengan tujuan melestarikan tradisi ataupun sifatnya hiburan.

Namun, perlombaan pacuan tadi bisa menjadi haram, jika perlombaan tersebut mengandung unsur keharaman untuk dilakukan. Misalnya, pacuan kuda dengan unsur perjudian.

Sementara itu, Rasulullah melarang umatnya untuk menyiksa binatang. Tidak hanya itu, bahkan Rasulullah menganjurkan umatnya agar memperlakukan binatang dengan baik. Misalnya, ketika hendak menyembelih hewan (ayam, kambing, sapi), umat Islam diperintahkan agar menyembelih hewan tersebut menggunakan pisau tajam—yang sekiranya tidak menyiksa hewan ketika disembelih dan merawat mereka (memberi makan dan minum).

Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

Sesungguhnya Allah telah mewajibkan supaya selalu bersikap baik terhadap setiap sesuatu, jika kamu membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik, jika kamu menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik, tajamkan pisaumu dan senangkanlah hewan sembelihanmu (HR. Muslim no. 3615).

Dalam kisah lain diriwayatkan, suatu ketika para sahabat sedang berjalan bersama Rasulullah ﷺ, karena suatu keperluan beliau ﷺ pergi sejenak meninggalkan sahabat.  Saat sedang menunggu Rasulullah ﷺ kembali, para sahabat mendapati seekor induk burung bersama kedua anaknya di sarangnya. Tanpa berpikir panjang, mereka mengambil kedua anak burung tersebut. Sang induk kemudian terbang mendatangi Rasulullah ﷺ dan mengepakkan sayapnya sebagai tanda memohon pertolongan (karena anaknya diambil sahabat). 

Segera Rasulullah ﷺ kembali dan bertanya kepada para sahabatnya, "Siapakah yang menyakiti burung ini dengan mengambil anaknya? Kembalikan anaknya kepadanya (induk)" (HR. Abu Dawud no. 2300).

Dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ melarang umatnya membakar semut, meskipun semut tersebut telah menggigit seorang Nabi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

قَرَصَتْ نَمْلَةٌ نَبِيًّا مِنْ الْأَنْبِيَاءِ فَأَمَرَ بِقَرْيَةِ النَّمْلِ فَأُحْرِقَتْ فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ أَنْ قَرَصَتْكَ نَمْلَةٌ أَحْرَقْتَ أُمَّةً مِنْ الْأُمَمِ تُسَبِّحُ

Ada semut yang menggigit seorang Nabi dari Nabi-Nabi terdahulu, lalu Nabi itu memerintahkan agar membakar sarang semut-semut itu, kemudian Allah mewahyukan kepadanya, firman-Nya, "Hanya karena gigitan seekor semut, maka kamu telah membakar suatu kaum yang bertasbih" (HR. Bukhari no. 2796).

Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ حَرَّقَ هَذِهِ قُلْنَا نَحْنُ قَالَ إِنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَذِّبَ بِالنَّارِ إِلَّا رَبُّ النَّارِ

Siapakah yang telah membakar semut ini? Kami katakan, “Kami.” Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya tidak layak untuk menyiksa dengan api, kecuali Tuhan Penguasa api” (HR. Abu Dawud no. 4584).

Berdasarkan penjelasan di atas, Islam telah mengajarkan dan mencontohkan bagaimana seharusnya umat Islam memperlakukan semua makhluk, termasuk hewan, dengan baik, tidak melukai dan tidak menyakiti apalagi dengan tujuan bersenang-senang semata. 

Rasulullah bersabda:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

Orang orang yang menyayangi akan disayang oleh Allah yang Maha Penyayang, maka sayangilah penghuni bumi, niscaya Penghuni langit akan menyangi kalian (HR. Ahmad. 6322).

Sahabat KESAN yang budiman, kasih sayang merupakan tali penghubung antara Allah dan manusia. Siapa yang menyambungnya, maka ia akan terhubung dengan Allah. Sebaliknya, siapa yang memutuskannya, maka ia akan (benar-benar) putus hubungan dengan Allah. Terkait pertanyaan di atas, Islam membolehkan perlombaan menggunakan hewan sebagai objeknya selama dalam perlombaan tersebut tidak mengandung unsur haram seperti perjudian dan eksploitasi hewan yang menyebabkan hewan tersebut sengsara dan menderita. 

Wallahu a’lam bi ash-shawabi

###

*Bagi Sahabat KESAN yang ingin membantu pesantren terbebas dari virus Covid-19, Sahabat bisa ikut berinfak melalui KESAN dengan klik link ini. Infak yang terkumpul akan digunakan untuk membeli alat rapid test dan disalurkan kepada pesantren-pesantren yang membutuhkan. Tidak ada infak yang terlalu kecil, berapa pun insyaAllah bermanfaat. 

**Jika artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan.

Bagikan artikel ini

Berita terkait