Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Jumat, 26 Juli 2019

Tanya Kiai: Salaman Setelah Salat, Adakah Dalilnya?

Pertanyaan: Setelah Jumatan minggu lalu, saya menyalami seseorang di sebelah saya. Sambil bersalaman, dia menggerutu ke saya, “Tidak ada dalilnya sebenarnya ini, Mas.” Apakah memang benar begitu, Ustadz?

Jawaban: Jika dikatakan tidak ada dalilnya, maka ucapan itu tidaklah akurat. Sebab ada hadis dan beberapa opini ulama besar yang membolehkan bahkan menganjurkan bersalaman setelah salat.

Salah satu sahabat Rasulullah, Abu Juhaifah, pernah melaporkan bahwa para sahabat menyalami Rasulullah ﷺ setelah salat.

قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِالْهَاجِرَةِ إِلَى الْبَطْحَاءِ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ، وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ، وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ‏.‏ ‏{‏قَالَ شُعْبَةُ‏}‏ وَزَادَ فِيهِ عَوْنٌ عَنْ أَبِيهِ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ كَانَ يَمُرُّ مِنْ وَرَائِهَا الْمَرْأَةُ، وَقَامَ النَّاسُ فَجَعَلُوا يَأْخُذُونَ يَدَيْهِ، فَيَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ، قَالَ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ، فَوَضَعْتُهَا عَلَى وَجْهِي، فَإِذَا هِيَ أَبْرَدُ مِنَ الثَّلْجِ، وَأَطْيَبُ رَائِحَةً مِنَ الْمِسْكِ‏

Pernah Rasulullah pergi ke Al-Batha' pada siang hari, kemudian berwudu dan mendirikan dua rakaat salat Zuhur dan dua rakaat salat Ashar. Ada tongkat yang ditancapkan di hadapan beliau dan orang lalu-lalang di depannya. (Usai salat), orang-orang bangkit untuk bersalaman dengan Nabi dan mencium tangannya. Aku pun menyalami dan mencium tangannya. Aku perhatikan bahwa tangan beliau lebih dingin dari es dan lebih harum dari minyak kesturi (HR. Bukhari no. 3553).  

Imam Tabari ketika mengomentari hadis ini berkata bahwa “kebiasaan bersalaman setelah salat berjamaah, terutama setelah salat Asar dan Maghrib, itu tidak mengapa selama dilakukan untuk tujuan baik seperti mencari berkah, memperkuat ukhuwah (persaudaraan), dan sejenisnya.”

Terlebih lagi memang ada beberapa hadis yang menunjukkan keutamaan bersalaman sesama muslim dalam hal menghapus dosa dan memupuk persaudaraan (silaturahim).

 مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

Tidaklah dua orang muslim saling bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali akan diampuni (dosa-dosa) mereka berdua sebelum mereka berpisah (HR. Abu Dawud no. 5212).

 تَصَافَحُوا يَذْهَبِ الْغِلُّ وَتَهَادَوْا تَحَابُّوا وَتَذْهَبِ الشَّحْنَاءُ 

Saling bersalamanlah (berjabat tanganlah), maka dendam akan hilang. Saling memberi hadiahlah, maka kalian akan saling mencintai dan hilanglah permusuhan (Muwatta Malik no. 1651).

Boleh jadi seseorang sengaja bersalaman dengan saudaranya seislam—baik sebelum maupun setelah salat—karena termotivasi kedua hadis di atas, yaitu agar dosanya diampuni sebelum mereka berpisah dan memupuk persaudaraan.

Salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ bernama Anas Ibnu Malik bahkan secara khusus mengolesi minyak wangi di tangannya setiap pagi untuk menyalami saudaranya seislam. Sehingga ketika selesai berjabat tangan, tangan saudaranya juga akan ikut wangi dan ia pun akan senang.

Para ulama dari Mahzab Syafi’i seperti Imam Izzuddin (Al-'Izz bin Abdussalam) mengatakan bahwa bersalaman selepas salat adalah bid’ah yang diperbolehkan. Imam Nawawi bahkan mengatakan bersalaman setelah salat kepada orang yang tidak dikenal sebelumnya (atau belum pernah bertemu sebelumnya) dapat dikatakan sebagai kesunahan karena bagian dari silaturahim.

Imam Nawawi berkata, “ Adapun kebiasaan masyarakat yang mengkhususkan bersalaman setelah dua salat (Subuh dan Asar) tergolong bid’ah yang diperbolehkan. Dikatakan bid’ah mubah jika orang yang bersalaman sudah bertemu sebelum salat. Namun jika belum (pernah) bertemu, maka berjabat tangan disunahkan karena termasuk bagian dari silaturahmi.”

Kesimpulannya, bersalaman setelah salat bukanlah suatu hal yang buruk, terlarang, dan tanpa dalil. Para ulama Mahzab Syafi’i mengkategorikannya sebagai bid’ah yang diperbolehkan dan ada pula seperti Imam Nawawi yang menganjurkannya.

Namun tentunya segala sesuatu ada adab dan caranya. Jangan sampai orang yang sedang khusyuk berdoa setelah salat disodori tangan kita sehingga mengganggu kekhusyukannya. Kemudian, baik pula meniru Anas ibnu Malik yang memastikan tangannya bersih dan wangi ketika menyalami saudaranya.

Wallahu a'lam bish-shawabi.

###

Dijawab berdasarkan Khutbah Jumat Syekh Abdullah Al-Khidar, Imam Masjid At-Taqwa, Monterey, California. Referensi tambahan: Al-Majmu’, 3:469-70; Al-Adab Al-Mufrad no. 1012

Sumber foto: www.eaalim.com

Bagikan artikel ini

Berita terkait