Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Kamis, 15 Agustus 2019

Tanya Kiai: Siapa Waliyullah dan Bagaimana Caranya?

Oleh: Ustaz Abdul Walid, alumnus Ma’had Aly, PP Syalafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo

Pertanyaan #1 (Mustakim):

Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh, KESAN. Nama saya Mustakim seorang Alumni dari pesantren salafiyah syafi'iyah meneng ketapang kalipuro BWI, mau bertanya tolong jelaskan tanda-tanda waliyullah dan siapa yang berhak memberikan gelar, apakah manusia semata ataukah hanya Allah Azza Wajalla?

 Petanyaan #2 (Mah Mudy):  

Bagaimana caranya menjadi waliyullah?

Jawaban:

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, akhi Mustakim dan Mah Mudy.

Marilah sejenak kita renungi firman Allah dalam Alquran:

اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَۗ

Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa  (QS. Yunus:62-63).  

Dari kedua ayat di atas, Allah hendak menjelaskan bahwa ciri-ciri seseorang yang disebut sebagai wali (kekasih Allah) itu ada dua.

Pertama, tidak pernah ada ketakutan/kekhawatiran untuk menghadapi tantangan masa depan—tantangan akhirat. Karena mereka sudah siap menghadapinya—dengan iman dan taqwa.

Kedua, tidak pernah merasa sedih dengan masa lalu mereka.

لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ } [أي] (2) فيما يستقبلون من أهوال القيامة، { وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ } على ما وراءهم في الدنيا

Ibnu Katsir mencoba memberikan tafsir terhadap “tidak ada rasa takut pada mereka” artinya mereka tidak pernah takut terhadap hal-hal yang akan mereka hadapi nantinya pada peristiwa hari Kiamat. Sedangkan “dan mereka tidak bersedih hati” maksudnya mereka tidak menyesal dengan masa lalu mereka selama di dunia atau dengan apa yang mereka tinggalkan di dunia.

Ibn Mas’ud, Ibn ‘Abbas, dan lebih dari satu ulama salaf berkata:

أولياء الله الذين إذا رءوا ذُكِر الله

Wali-wali Allah itu adalah bila mereka melihat sesuatu, apa pun itu, maka Allah senantiasa disebut.

Dengan kata lain, para waliyullah senantiasa mengingat dan menyebut Allah di setiap saat.  

Selanjutnya, Imam Qusyairi menulis bahwa tanda kewalian itu ada tiga:

شغلة بالله، وفراره إلى الله، وهمه إلى الله

Selalu sibuk dengan Allah, bergegas (lari) menuju Allah, tujuannya hanya Allah semata.

Dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa para wali Allah itu adalah orang-orang senantiasa memprioritaskan, mengingat, menyebut, dan menjadikan Allah sebagai tujuan hidupnya dalam setiap tarikan nafas.

Terkait siapa-siapa itu waliyullah, perlu diketahui bahwa kewalian adalah rahasia Allah. Oleh karena itu, yang berhak tahu dan menyebut dia adalah seorang wali hanyalah Allah semata—bukan manusia. Karena gelar wali sesungguhnya dari Allah.

Bagaimana caranya menjadi waliyullah

Ada tiga langkah atau maqam yang harus dilalui.

Pertama, takhalli. Proses mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela, sifat tak terpuji yang bakal menjadi penyebab terhalangnya pancaran Ilahi masuk dalam jiwanya seperti sifat-sifat hasud, iri dan dengki, sifat yang selalu memprioritaskan dunia sebagai tujuan hidupnya hingga akhirnya lupa terhadap tujuan asasinya, yaitu beribadah untuk Allah semata. Singkatnya, ini adalah fase uninstall sifat-sifat buruk yang kita miliki.

Kedua, tahalli. Pada fase ini kita perlu upgrade diri dengan mengisi dan menghiasi diri dengan sifat-sifat yang terpuji. Sifat-sifat buruk di-uninstall dan sifat-sifat baik di-install dan di-upgrade (ditambah dan diperkaya) agar jiwa menjadi layak untuk disemayami nur Ilahi.

Maka tatkala jiwa sudah layak menerima transit nur uluhiyyah inilah jiwa akan mulai bisa melihat dan merasakan bahwa betapa indahnya Allah. Karena pandangan dan perasaan yang indahlah yang akan mampu melihat dan merasakan keindahan (Allah)

‏ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

Sungguh Allah itu Indah dan menyukai keindahan (HR. Muslim no. 91).

Ketiga, tajalli. Fase akhir di mana terbukanya tabir yang menghalangi hamba dengan-Nya sehingga hamba menyaksikan tanda-tanda kekuasaan dan keagungan-Nya. Jarak antara hamba dan Allah pun begitu dekat.

Selamat berjuang saudaraku dalam upaya menjadi waliyullah.

Wallahu a’lam bish-shawabi.

Referensi: Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Juz IX hal 278; Al-Risalah al-Qusyairiyyah, karya Imam Qusyairi juz I, hal 118.

###

* Punya pertanyaan terkait Islam? Jangan ragu mengirimkannya kepada kami di salam@kesan.id. InsyaAllah akan kami teruskan kepada para ustaz dan kiai untuk dicarikan jawabannya.

 

Bagikan artikel ini

Berita terkait