Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Senin, 27 September 2021

Tanya Nyai: Perempuan Ber-make-up di Luar Rumah?

Pertanyaan (Rahmi, bukan nama sebenarnya):

Bolehkah perempuan menggunakan make-up saat di luar rumah? Apa kriteria make-up yang bisa digunakan muslimah?

Jawaban (Ustazah Nurun Sariyah):

Menghias diri merupakan hal yang lumrah bagi kebanyakan orang. Tak hanya perempuan, laki-laki juga senang menghias diri, meski cara berhias keduanya berbeda.

Make-up atau merias wajah adalah salah satu cara berhias yang disukai para perempuan. Ada berbagai tujuan perempuan merias wajah. Di antaranya adalah untuk memantaskan diri saat menghadiri suatu acara, atau sekedar membangkitkan dan meningkatkan kepercayaan diri saja. 

Lantas, bagaimana Islam memandang hal tersebut?

Menghias diri bukanlah kesombongan

Pada dasarnya, merias wajah untuk memperindah penampilan diri bukanlah suatu masalah. Allah adalah Tuhan kita yang Mahaindah dan menyukai keindahan. Jadi wajar saja jika manusia sebagai makhluknya juga menyenangi keindahan, antara lain dengan berhias. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Sesungguhnya Allah itu Mahaindah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim no. 91).

Kala itu, Rasulullah ﷺ sedang memberikan nasehat bahwa seseorang tak akan masuk surga jika hatinya menyimpan rasa sombong. Kemudian Sahabat Malik bin Murarah Ar-Rahawiy ra. mempertanyakan kaitan orang yang senang mengenakan pakaian dan sandal yang bagus dengan rasa sombong.

Lantas, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa hal itu tak termasuk kesombongan, karena Allah menyukai keindahan. Adapun rasa sombong yang dimaksud adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.

Merias wajah tapi tidak tabarruj

Dalam konteks perempuan berhias di luar rumah, Allah berfirman:

وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat (QS. An-Nur [24]: 31).

Ahli tafsir Imam Ibnu ‘Asyur menyimpulkan bahwa perhiasan yang boleh tampak adalah perhiasan yang jika ditutupi akan menimbulkan masyaqqah (kesulitan). Ini berarti, tampaknya riasan di wajah bukanlah masalah.

Hanya saja, beliau memberikan batasan untuk tidak ber-tabarruj dalam berdandan. Tabarruj yakni menghias diri di luar batas kewajaran. Misalnya, mengaplikasikan produk yang over-tone ke kulit, baik terlalu merona, terlalu terang, atau warna-warna berlebihan lainnya.

Tabarruj selama ini dipahami secara ringkas sebagai aksi berlebih-lebihan. Padahal, kata “at-tabarruj”  secara literal bermakna buka-bukaan (التَّكَشُّفُ). Secara umum, tabarruj berarti menampakkan sesuatu yang biasanya ditutupi oleh perempuan muslimah selain pada suaminya. Misalnya, dengan menampakkan aurat atau perhiasan yang seharusnya tertutup di hadapan publik.

Perbuatan ini dilarang sebab dapat memberikan kesan bahwa perempuan tersebut sedang menarik perhatian lelaki lain, yang menyalahi adab, etika dan akan menimbulkan fitnah. Allah swt berfirman:

وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ

Dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliyah dahulu (QS. Al-Ahzab [33]: 33).

Seorang ulama dari Granada, Imam Ibnu ‘Athiyah menjelaskan dalam kitab tafsirnya bahwa tabarruj yang dimaksud dalam ayat di atas adalah sengaja menampakkan perhiasan dan bergaya untuk menarik perhatian sekitar, seperti cara berjalan perempuan genit zaman jahiliyah yang berlenggak-lenggok.

Kriteria make-up

Mengenai kriteria make-up yang bisa digunakan seorang muslimah, selain halal ia juga harus thayyib (baik) dan sesuai porsi. Sesuai dengan firman Allah swt:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحَرِّمُوْا طَيِّبٰتِ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ - ٨٧ وَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْٓ اَنْتُمْ بِهٖ مُؤْمِنُوْنَ - ٨٨

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah dihalalkan Allah kepadamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.. Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya (QS. Al-Maidah [5]: 87-88).

Makan di sini dapat diartikan sebagai aksi konsumtif, sehingga aktivitas mengkonsumsi apapun dapat dinisbatkan kepada ayat ini, mulai belanja makanan dan kebutuhan harian, menggunakan jasa, pemakaian internet, termasuk menggunakan make-up.

Dengan demikian, ada tiga hal yang perlu setiap muslimah perhatikan dalam memakai produk make-up:

1. Terbuat dari bahan yang halal. Salah satu cara melihatnya adalah dengan memeriksa stempel halal dari lembaga pemerintah yang dalam hal ini diwakilkan kepada MUI.

2. Sisi thayyib suatu produk kosmetik, yaitu kondisi produk tidak mengandung bahan yang dapat menimbulkan masalah pada kulit. Konsumen dapat mengkonfirmasinya melalui label lolos tahap uji coba BPOM di kemasan produk.

3. Menggunakan produk kosmetik sesuai porsi dan kebutuhan. Yaitu berhias sampai batas dapat menjaga dan memperindah ciptaan Allah, bukan membuat penggunanya tampak genit. Ber-make-up secara berlebihan tak sejalan dengan citra seorang muslimah.

Kesimpulan

Sahabat KESAN yang budiman, tazayyun atau berhias bukanlah hal buruk. Berhias berlaku baik pada laki-laki maupun perempuan. Memperindah penampilan seorang muslim dan muslimah sehingga tampil dengan elok, segar, cantik/tampan, dan rapi sama dengan usaha untuk menampilkan wajah Islam yang indah dan gagah, karena citra Islam diwakilkan oleh citra para pemeluknya.

Oleh karena itu, cara umat muslim menghias dirinya adalah salah satu cara menampilkan wajah Islam. Pada intinya, berhias dengan menggunakan make-up juga cara menjaga keindahan ciptaan Allah yang patut disyukuri, dan hukumnya boleh-boleh saja.

Merias wajah dilarang jika tujuannya melenceng dari kebenaran. Misalnya, untuk menyombongkan diri, berlebihan,  dan menggoda orang lain sehingga terjerumus kepada perbuatan terlarang lainnya.

Adapun kriteria make-up yang sesuai tuntunan adalah dengan menggunakan produk yang halal dan aman bagi tubuh. Lalu, mengaplikasikannya secara wajar, tidak berlebih-lebihan dan tidak didasari niat buruk.

Wallahu a’lam bi ash-shawabi.

Referensi: Muslim bin Al-Hajjaj; Shahih Muslim: 1/93, Abu Zakariya An-Nawawi; Syarhu An-Nawawi ‘ala Muslim: 2/89-92, Muhammad Thahir bin ‘Asyur: At-Tahrir wa At-Tanwir: 18/298, Abu Muhammad bin ‘Athiyah; Al-Muharrar Al-Wajiz fi Tafsiri Al-Kitab Al-Aziz: 4/383-384.

###

*Jika artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan.

**Ingin menulis untuk KESAN dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id 

Bagikan artikel ini

Berita terkait