Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Senin, 12 April 2021

Tanya Nyai: Taaruf dalam Islam? 

Pertanyaan (Melia, bukan nama sebenarnya):

Apa hukumnya ta’ruf dalam Islam?

Jawaban (Ustadzah Nurun Sariyah, S.H.):

Taaruf merupakan kata serapan dari bahasa Arab. Berasal dari kata ta'arafa (تَعَارَفَ) yang berarti saling berkenalan atau kata ta’arrafa (تَعَرَّفَ)  yang berarti berkenalan atau mendapatkan informasi dari satu sisi saja. Pada dasarnya,  makna taaruf dimaknai sebagai perkenalan secara umum; yang kemudian maknanya lebih dimaksudkan sebagai prosesi perkenalan antara dua pihak laki-laki dan perempuan yang bermaksud menikah.

Pengertian taaruf dan khitbah

Dalam syariat Islam, taaruf dilakukan setelah khitbah (lamaran). Lamaran dalam Islam sebenarnya hanya berupa menyampaikan maksud (tujuan) bahwa dirinya ada keinginan untuk menikah dengan calon yang dimaksud. 

Jadi, khitbah bukanlah seremonial yang digelar dengan membawa hantaran (seserahan berupa makanan, pakaian, dsb., sesuai adat setempat), karena lamaran model ini sudah pasti diterima oleh pihak perempuan. Sementara dalam khitbah, potensi untuk ditolak maupun ‘udul (tidak jadi melanjutkan) sangatlah mungkin terjadi.

Dengan demikian, sebelum proses taaruf dilakukan, seseorang telah menyampaikan khitbah (ketertarikan untuk menikah). Setelah izin didapatkan, maka proses taaruf bisa dimulai.

Secara teknis, tidak ada ketentuan khusus dalam syariat Islam yang membahas soal tata cara bertaaruf. Poin penting dalam ta'aruf adalah melihatnya kedua belah pihak (calon pasangan) perawakan (wajah) satu sama lain dengan cara bertemu langsung.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَنَّهُ خَطَبَ امْرَأَةً فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ انْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا

Sesungguhnya dia telah melamar seorang perempuan, kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, “Lihatlah dia (perempuan yang kau lamar), sesungguhnya itu (melihatnya) dapat membuat langgeng di antara kalian berdua (HR. Tirmidzi no: 1.087).

Imam Tirmidzi menilai hadis di atas hasan. Beliau juga mengatakan bahwa “Sebagian ulama mengamalkan hadis ini. Mereka berkata, 'Tidak mengapa melihat kepadanya, selama tidak melihat hal-hal (anggota tubuh) yang diharamkan.’”

Tata cara taaruf

Syeikh Wahbah Zuhailiy menjelaskan bahwa syariat memperbolehkan taaruf kepada makhtubah (perempuan yang dilamar) dengan dua pilihan:

Pertama, dengan cara mengutus seseorang yang ia percayai untuk bertemu dan melihat perawakan si calon, lalu melaporkannya kepada si pengutus. Pihak lelaki mengutus seorang perempuan, dan pihak perempuan mengutus seorang lelaki.

Kedua, bertemunya laki-laki dan perempuan yang bertaaruf bertujuan untuk saling melihat satu kondisi (fisik) sama lain. Yang boleh dilihat adalah wajah, dua telapak tangan, dan postur tubuhnya untuk mengetahui tinggi/pendeknya.

Di antara prosesi taaruf yang menjadi trend sekarang ini adalah semisal saling bertukar biodata dan profil diri lengkap dengan foto, dilanjutkan dengan bertemu muka didampingi mahram, istikharah (memohon pertolongan Allah untuk memutuskan suatu perkara yang dianggap penting dengan berbagai cara seperti shalat, meminta petunjuk orang tua, dsb), lalu penentuan keputusan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya atau tidak.

Selama aman dari fitnah dan jelas tujuannya, semua itu tidaklah dilarang. Bahkan, sunnah hukumnya melakukan sesuatu yang dapat meyakinkan diri kita terhadap si calon. 

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ

Apabila salah satu di antara kalian melamar seorang perempuan, maka apabila dia bisa melihat sesuatu yang dapat mendorongnya untuk menikahi perempuan tersebut, hendaklah dia melakukannya (HR. Abu Dawud no. 2082; hadis hasan menurut Imam Ibnu Hajar Al-’Asqalani).

Kesimpulan

Sahabat KESAN yang budiman, mengetahui bagaimana kondisi calon pasangan hidup kita merupakan hal yang penting. Oleh sebab itu, melihat lawan jenis yang sebelumnya dilarang oleh syariat menjadi boleh karena mengenal calon pasangan hidup adalah penting. 

Meski demikian, ketertarikan ini bukan hanya dari segi fisik saja, tetapi bisa juga dari segi pendidikan, pola pikir, pengalaman, hobi, keluarga, harta, karya, nasab, dan, yang terpenting, agamanya. 

Dengan menemukan adanya sesuatu yang menarik hati dari calon pasangan, maka bisa memunculkan bibit cinta dan kasih di antara kedua calon. Inilah yang akan menjadi salah satu bekal penting untuk melanggengkan hubungan sebagai pasangan suami istri ke depan. 

Wallahu a’lam bi ash-shawabi

Referensi: Al-Fiqhu Al-Islamiy wa Adillatuhu: 9/6.505-6.506.

###

*Jika artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan. 

**Punya pertanyaan terkait Islam? Silakan kirim pertanyaanmu ke salam@kesan.id

Bagikan artikel ini

Berita terkait