Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Minggu, 14 Juli 2019

Tetap Amanah Sekalipun Dalam Ancaman

Tidak semua orang memiliki sifat amanah dan dapat dipercaya. Ada orang yang amanah hanya ketika ia dalam keadaan aman dan sejahtera saja. Tapi ketika ia dalam kondisi tidak aman dan terjepit (secara finansial, misalnya), ia lantas berkhianat. Namun tidak demikian bagi Nabi Muhammad ﷺ.

Beliau ﷺ tetap amanah dalam kondisi apapun—baik senang maupun susah, kaya maupun miskin, aman maupun terancam. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad ﷺ diberi gelar Al-Amin (Terpercaya)—sesuatu yang suku Quraisy sendiri akui walau sebagian dari mereka berencana membunuh beliau.

Berikut adalah sebuah cerita yang menggambarkan sifat amanah Nabi Muhammad ﷺ sekalipun keselamatan beliau berada di ujung tanduk:

Pada tahun 622 M, umat Islam yang tinggal di Mekkah semakin hari semakin banyak yang hijrah ke Madinah. Mereka menyelinap keluar dari Mekkah secara sendiri atau rombongan pada dini hari atau dalam kegelapan malam untuk menghindari persekusi kaum Quraisy. Sebagian dari mereka ada yang ditangkap, dipukuli, dan ditawan oleh kaum Quraisy yang menggangap upaya hijrah mereka sebagai ancaman untuk masa depan.

Dalam keadaan genting ini, kaum Quraisy akhirnya sepakat untuk membunuh Nabi Muhammad ﷺ dengan harapan bahwa bila sang Nabi terbunuh maka ajaran Islam akan sirna dan para muhajirun—yang  juga merupakan keluarga dan kerabat mereka—akan kembali ke Mekkah dan menjadi “normal” seperti sedia kala.

Nabi Muhammad ﷺ sendiri tahu bahwa upaya pembunuhan terhadap dirinya adalah masalah waktu saja. Beliau sendiri tetap di Mekkah bersama Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib dan menunggu perintah Allah untuk hijrah.

Sementara menunggu perintah Allah, Nabi Muhammad ﷺ tetap menjalankan niaga dan amanah (barang-barang untuk jual-beli) seperti biasa. Termasuk barang-barang yang dititipkan oleh kaum kafir Quraisy kepada sang Nabi yang tetap beliau jaga dengan baik.

Mari kita renungkan sejenak. Sekalipun kaum kafir Quraisy mempersekusi kaum muslim dan merencanakan pembunuhan terhadap Nabi Muhammad ﷺ, sang Nabi tetap menjalankan kepercayaan dan amanah yang diberikan oleh sebagian kaum kafir Quraisy pada dirinya. Beliau tidak berkhianat, misalnya, dengan menjual barang-barang titipan tersebut, mengantongi uangnya, kemudian kabur ke Madinah. Beliau juga tidak merusak barang-barang itu agar para kaum kafir Quraisy menjadi rugi. Zalim dan khianat bukanlah karakter sang Nabi, melainkan adil dan amanah. 

Menjelang hijrahnya beliau, yang beliau lakukan adalah mengembalikan barang-barang atau uang yang diamanahkan kepada beliau kepada si empunya. Nabi Muhammad ﷺ pun berusaha memastikan agar barang-barang titipan tersebut kembali ke pemiliknya dengan aman dan lengkap.

Di detik-detik menjelang hijrah, beliau menugaskan Ali bin Abi Thalib agar tetap di Mekkah selama 3 hari untuk mengembalikan seluruh barang-barang titipan baru kemudian bertolak menyusul sang Nabi.

Kepada yang mempersekusinya sekalipun—dan dalam keadaan terjajah sekalipun—sang Nabi tetap amanah. Maka Maha Benar Allah dengan Firman-Nya:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu contoh terbaik (untuk ditiru) bagimu (QS. Al-Ahzab: 21).  

Akhir kata, shollu 'alan nabi.

###

* Referensi: Sahih Al-Bukhari (2297), As-Sunan Al-Kubra (12477), Al-Bidaya wan-Nihaya (3/218-219), Tarikhul Umam Wal Muluk (2/372)

** Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id.

Bagikan artikel ini

Berita terkait